ASUHAN KEBIDANAN KOMUNITAS PADA BAYI DAN NEONATUS

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kesehatan ibu dan anak adalah pangkal kesehatan dan kesejahteraan bangsa. Ibu sehat akan melahirkan anak yang sehat, menuju keluarga sehat dan bahagia. Mengingat anak – anak merupakan salah satu aset bangsa maka masalah kesehatan anak memerlukan prioritas masih cukup tinggi. Sekitar 37,3 juta penduduk di Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, setengah dari total rumah tangga mengkonsumsi makanan kurang dari kebutuhan sehari-hari, lima juta balita berstatus gizi kurang, lebih dari 100 juta penduduk beresiko terhadap berbagai masalah kurang gizi. Dalam hal kematian, Indonesia mempunyai komitmen untuk mencapai sasaran Millenium Development Goals (MDG’s) untuk mengurangi jumlah penduduk yang miskin dan kelaparan serta menurunkan angka kematian balita menjadi tinggal setengah dari keadaan pada tahun 2000 (Syarief,Hidayat.2004). Sumber daya manusia terbukti sangat menentukan kemajuan dan keberhasilan pembangunan suatu Negara. Terbentuknya sumber daya manusia yang berkualitas, yaitu sumber daya manusia yang sehat, cerdas, dan produktif.. Pada bayi dan balita, kekurangan gizi dapat mengakibatnya terganggunya pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan spiritual. Bahkan pada bayi, gangguan tersebut dapat bersifat permanen dan sangat sulit untuk diperbaiki. Dengan demikian akan mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Negara dan bangsa juga akan menderita bila ibu, anak dan keluarga serta masyarkat tidak sehat. Sebab kematian bayi sangat erat hubungannya dengan tingkat sosial ekonomi, keadaan gizi dan pelayanan kesehatan.
Berdasarkan uraian diatas penulis mengambil pokok pembahasan tentang peran seorang Bidan sebagai tenaga kesehatan di komunitas dalam melakukan Pelayanan Kesehatan pada Bayi dan Balita dalam upaya mencapai sasaran MDG’s 2015.

CONTOH KASUS

Seorang anak laki-laki berumur 11 bulan BB 6000 gram, PB 70 cm dibawa ibunya karena batuk pilek. Bayi lahir dibidan dengan berat lahir 2,6 kg, panjang badan 50 cm, lingkar kepala 32 cm, tidak langsung menangis, setelah 5 menit baru menangis lemah. Penimbangan tiga bulan terahir berturut-turut beratya stabil 6000 gram, lingkar kepala 39 cm, saat ini anak sehari-hari biasa makan nasi dengan sayur lauk pauk tahu tempe kadang telur. Mulai umur 3 bulan sudah diberi susu formula,pisang,bubur bayi karena sering menangis, imunisasi BCG 2 bulan, pemberian polio 5 kali terahir, hepatitis B umur 40 hari dan 3 bulan. DPT umur 4 bulan dan 6 bulan, bayi sudah bisa tengkurap, bolak balik, belum bisa duduk dan berdiri, bayi mengoceh kadang-kadang, tangan belum bisa memegang kerincingan, jendela kamar selalu ditutup, takut bayi masuk angin, lubang angin ditutup kertas karena nyamuk sering masuk.

 ANALISA KASUS
tersebut Data keadaan bayi dan perbandingan dengan capaian yang seharusnya sesuai dengan umur bayi

KONDISI BAYI KONDISI BAYI SEHARUSNYA
 0-3 bulan bayi baru lahir

• bayi tidak menangis, 5 menit baru menangis
• berat badan 2,6 kg
• panjang badan 50 cm
• lingkar kepala 32 cm
 3-6 bulan

• diberi susu formula, belum bisa diberi makanan padat
Pisang,bubur bayi.

 6-9 bulan

• Berat badan statis pada umur 8-11 bulan 6000 gram

• Lingkar kepala 39 cm

 9-12 bulan

• 11 bulan BB 6000 gram
• Panjang badan 70 cm
• bayi mengoceh, tangan belum bisa memegang kerincingan
• bayi bisa tengkurap bolak balik,
Belum bisa duduk dan berdiri

 0-3 bulan bayi baru lahir

• bayi menangis spontan

• berat badan 2,5-4 kg
• panjang badan 50 cm
• lingkar kepala 33-38 cm
 3-6 bulan

• Tetapi sudah dikasih

 6-9 bulan

• ada peningkatan berat badan

• Lingkar kepala 44 cm

 9-12 bulan

• umur 11 bulan BB 8,5 kg

• panjang badan 83,9 cm

• sudah bisa memanggil nama ibu dan ayah

• sudah bisa duduk dan berdiri tanpa pegangan.

 INTERPRETASI KASUS
1. Bayi ketika lahir mengalami suatu afiksia neonaturum karena tidak menangis spontan. Keadaan afiksia ini bisa memberikan gangguan pada sel-sel otak yang akan mengarah pada sekuele otak sebagai gejala sisanya. Tentunya ini bergantung pada derajat asfiksianya.
2. Bayi mengalami suatu gangguan pertumbuhan. Hal ini dilihat dari keadaan bayi dengan berat badan yang normal kemudian adanya berat badan yang statis pada umur 9, 10, dan 11 bulan dengan berat badan 6000 gram. Faktor internal dan eksternal mempengaruhi proses pertumbuhan ini . faktor internal mencakup faktor genetik orangtuanya, proses selama kehamilan seperti nutrisi, penyakit, obat dan yang lainnya. Sedangkan faktor eksternal mencakup nutrisi yang diberikan pada bayi, penyakit diderita bayi serta polusi dan aktifitas fisik.
 Kriteria adanya suatu gangguan pertumbuhan dengan mengguanakan kurva pada kartu menuju sehat adalah
a. Garis pertumbuhan berat badan menurun atau lebih rendah dari bulan sebelumny
b. Garis pertumbuhan menetap atau mendatar sebagai mana pada keadaan kasus dimana berat badan bayi menetap 3 bulan terahir
c. Garis pertumbuhan naik tetapi pindah ke kurva yang dibawahnya
 Sedangkan garis pertumbuhan yang harus dicapai oleh bayi adalah
a. Garis pertumbuhan naik mengikuti salah satu pita warna
b. Garis pertumbuhan naik dan pindah kepita warna diatasnya
3. Pada bayi ini mengalami suatu gangguan perkembangan. Hal ini bisa dilihat pada keadaan perkembangan motorik kasar bayi sekarang dimana bayi belum bisa berdiri dengan atau tanpa pegangan bahkan bayi belum bisa duduk, bayi tersebut baru bisa bolak balik seharusnya dicapai pada umur 5,4 bulan .
Begitu pula perkembangan bicara atau bahasa dimana pada kasus ini bayi baru bisa mengoceh, padahal pada umur 11 bualn bayi seharusnya sudah bisa mengucapkan satu kata misalnya mama atau papa.

 PEMERIKSAAN FISIK UNTUK TANDA KLINIS MELIPUTI: NADI, SUHU, PERNAPASAN, KESADARAN, TANDA DEHIDRASI.

# Denyut nadi dan pernapasan bila denyut nadi naik > 25 kali/menit maka terjadi infeksi
# pernapasan cepat maka akan terjadi pneumonia.
Tanda tanda :
• tubuh yang sangat lemah
• kesadaran menurun
• kehilangan kesadaran
• tangan dan kaki dingin
• mulut dan lidah kering
• balita gelisah dan rewel
• mata cekung, tidak ada air mata

4. Sehingga bayi ini tergolong gizi buruk karena berat badanya dibawah -3 SD dan panjang badannya dibawah -2 SD serta ada tanda klinis yaitu batuk pilek.
Status gizi pada bayi ini dipengaruhi oleh kesediaan pangan dalam keluarga ( yang dipengaruhi pendapatan keluarga ), infeksi penyakit pada bayi seperti batuk pilek pada bayi ini, prilaku asuhan anak ( tidak mendapatkan sinar matahari dan ventilasi yang cukup )dan pengetahuan gizi untuk bayi.
5. pemberian makanan padat pada usia 3 bulanberbahaya karena bisa menimbulkan pengendapan zat makanan pada lambung, menimbulkan infeksi dan juga bisa menyebabkan obstruksi usus karena pada umur 3 bulan keadaan saluran pencernaan belum sempurna, gerakan prilstastik usus yang masih belum baik karena saraf-saraf instrinsik usus masih dalam proses pematangan

 PENATALAKSANAAN

1. Pemberian pengetahuan kepada ibu tentang gizi bayi dan hal hal yang terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan anak serta penjelasan kepada bayinya saat ini
2. Penyusunan jadwal makanan bayi
Kebutuhan kalori bayi umur 11 bulan adalah 100 kalori/kg BB/ hari
8,5 kg x 100 kkal/kg BB/hari= 850 kkal per hari. Protein 15 gram. Pada keadaan sakit ( batuk, pilek pada bayi ini ) kebutuhan energi lebig banyak.

MELAKSANAKAN RENCANA ASUHAN SECARA BERKESINAMBUNGAN
Waktu pemberian makanan
06.00 : susu buatan
08.00 : bubur susu + 1 butir telur
10.00 : buah buahan
13.00 : nasi tim ( tak disaring)+ kaldu/sup
16.00 : buahan atau biskuit
18.00 : nasi tim
Sebelum tidur kasi susu buatan.

 

BAB II
PEMBAHASAN

Peran dan Fungsi Bidan sesuai dengan Kompetensi Bidan Indonesia berkaitan dengan Asuhan di komunitas tentang Asuhan pada Bayi dan Balita. Pernyataan kompetensi 7: Bidan memberikan asuhan yang bermutu tinggi dan komprehensif pada bayi dan balita sehat 1 bulan ± 5 tahun.

A. PERAWATAN KESEHATAN PADA BAYI
Bayi merupakan makhluk hidup mungil calon manusia yang terbentuk dari pertemuan sperma dan sel telur di dalam rahim seorang wanita. Bayi merupakan anak yang berumur 28 hari sampai kurang lebih 1 tahun.
Perawatan kesehatan pada bayi meliputi:
1. Penyuluhan kesehatan kepada keluarga khususnya ibu, tentang:
a)Pemberian Asi Eksklusif untuk bayi di bawah 6 bulan dan makanan Pendamping Asi (MP-Asi) untuk bayi di atas 6 bulan.
b)Cara menyusui bayi yang baik.
c)Pola pemberian makan dan masalah pemberian makan.
d)Kebersihan anak
e)Tanda anak sehat:
-Berat badan naik sesuai garis pertumbuhan mengikuti pita hijau pada KMS atau naik ke pita warna di atasnya
-Anak bertambah tinggi
-Kemampuannya bertambah sesuai umur
-Jarang sakit
-Ceria, aktif, dan lincah
f)Tanda bahaya umum/Anak sakit
-Tidak bisa minum atau menyusu
-Memuntahkan semuanya
-Kejang
-Letargis atau tidak sadar
2. Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita.
Meliputi:
a) Pemantauan tumbuh kembang untuk meningkatkan kualitastumbuh kembang anak melalui deteksi dini dan stimulasi tumbuh kembang.
b)Pencegahan kecelakaan
c)Kesehatan pola tidur
3. Pemberian Imunisasi.
4. Pemberian Vit. A, kapsul vitamin A berwarna biru yang diberikan 1 kali dalam setahun.
Vitamin A adalah salah satu zat gizi dari golongan vitamin yang sangat diperlukan oleh tubuh yang berguna untuk kesehatan mata ( agar dapat melihat dengan baik ) dan untuk kesehatan tubuh yaitu meningkatkan daya tahan tubuh, jaringan epitel, untuk melawan penyakit misalnya campak, diare dan infeksi lain.
Upaya perbaikan gizi masyarakat dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap Vitamin A, yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun. (Depkes RI, 2007).
Vitamin A terdiri dari 2 jenis :
• Kapsul vitamin A biru ( 100.000 IU ) diberikan pada bayi yang berusia 6-11 bulan satu kali dalam satu tahun.
• Kapsul vitamin A merah ( 200.000 IU ) diberikan kepada balita
Kekurangan vitamin A disebut juga dengan xeroftalmia ( mata kering ). Hal ini dapat terjadi karena serapan vitamin A pada mata mengalami pengurangan sehingga terjadi kekeringan pada selaput lendir atau konjungtiva dan selaput bening ( kornea mata ).

B. PERAWATAN KESEHATAN PADA BALITA
Balita merupakan anak usia 1-5 tahun. Pelayanan kesehatan pada anak balita, meliputi:
1. Pemeriksaan kesehatan anak balita secara berkala
2. Penyuluhan pada orang tua, mengenai:
a)Kebersihan anak
b)Perawatan gigi
c)Perbaikan gizi/pola pemberian makan anak
d)Kesehatan lingkungan
e)Pendidikan seksual dimulai sejak balita (sejak anak mengenalidentitasnya sebagai laki-laki atau perempuan)
f)Perawatan anak sakit
g)Jauhkan anak dari bahaya
h)Cara menstimulasi perkembangan anak
3. Imunisasi dan upaya pencegahan penyakit
4. Pemberian vitamin A, kapsul vit.A berwarna merah diberikan 2 kali dalam setahun
5. Identifikasi tanda kelainan dan penyakit yang mungkin timbul pada bayi dan cara menanggulanginya

Kunjungan anak balita
Bidan berkewajiban mengunjungi bayi yang ditolongnya ataupun yang ditolong oleh dukun di bawah pengawasan bidan di rumah. Kunjungan ini dilakukan pada:
a)Minggu pertama setelah persalinan. Untuk selanjutnya bayi bisa dibawa ketempat bidan bekerja.
b)Anak berumur sampai 5 bulan diperiksa setiap bulan.
c)Kemudian pemeriksaan dilakukan setiap 2 bulan sampai anak berumur 12 bulan
d)Setelah itu pemeriksaan dilakukan setiap 6 bulan sampai anak berumur 24 bulan
e)Selanjutnya pemeriksaan dilakukan satu kali se-tahun.

Kegiatan yang dilakukan pada kunjungan balita antara lain:
a)Pemeriksaan fisik pada anak
b)Penyuluhan atau nasehat pada ibu dan keluarga
c)Dokumentasi pelayanan

C. PEMANTAUN TUMBUH KEMBANG PADA BAYI DAN BALITA/DETEKSI DINI

Pertumbuhan (growth) berkaitan dengan masalah perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel, organ maupun individu, yang biasa diukur dengan ukuran berat, ukuran panjang, umur tulang dan keseimbangan metabolik.
Perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skill) dalam stuktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan.
Deteksi dini tumbuh kembang bayi dan balita adalah kegiatan pemeriksaan untuk menemukan secara dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada bayi dan balita.
Dengan ditemukan secara dini penyimpangan/masalah tumbuh kembang bayi dan balita, maka intervensi akan lebih mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai waktu dalam membuat rencana tindakan/intervensiyang tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu dan keluarga. Bila penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan sulit dan hal ini akan berpengaruh pada tumbuh kembang bayi dan balita tersebut.
Ada tiga jenis deteksi dini tumbuh kembang yang dapat dikerjakan oleh tenaga kesehatan di tingkat puskesmas dan jaringannya, berupa:
1.Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/menemukan status gizi kurang/buruk danmikro/makrosefali.
2.Deteksi dini penyimpangan perkembangan, yaitu untuk mengetahui gangguan perkembangan bayi dan balita(keterlambatan), gangguan daya lihat, gangguan daya dengar.
3.Deteksi dini penyimpangan mental emosional, yaitu untuk mengetahui adanya masalah mental emosional,autism dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas.

Anamnesis tumbuh kembang anak;
1. Anamnesis faktor pranatal dan perinatal
2. Kelahiran prematur
3.Anamnesis faktor lingkungan
4.Penyakit-penyakit yang mempengaruhi tumbuh kembang dan malnutrisi
5.Anamnesis kecepatan pertumbuhan anak
6.Pola perkembangan anak dalam keluarga

Perkembangan Anak Balita
Frankenburg dkk (1981) melalui DDST (Denver Depelopmental Screening Test) mengemukakan 4 parameter perkembangan yang dipakai dalam menilai perkembangan anak balita yaitu ;
1. Personal Sosial (kepribadian atau tingkah laku sosial)
2. Fine motor adaptive (gerakan motorik halus)
3. Language (bahasa)
4. Gross Motor (perkembangan motorik kasar)
Kesimpulan :
1. Tumbuh kembang adalah proses yang berkesinambungan mulai dari konsepsi sampai dewasa.
2. Tumbuh kembang mengikuti pola yang sama dan tertentu, tetapi kecepatannya berbeda antara satu anak dengan lainnya.
3. Tumbuh kembang dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan.
4. Penting nya ibu dalam ekologi anak, para genetik faktor yaitu pengaruh biologisnya terhadap pertumbuhan janin dan pengaruh psikobiologisnya terhadap tumbuh kembang post natal dan perkembangan kepribadian anak.
5. Perlunya stimulasi dalam tumbuh kembang anak.
6. Perlunya deteksi dan penanganan dini, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

 

BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Salah satu faktor penyumbang dari Angka kematian bayi dan Angka kematian balita yaitu dari segi pencapaian pelayanan kesehatan. Sehingga dengan adanya bidan di komunitas dekat dengan masyarakat diharapkan dapat menekan dan menurunkan angka kematian tersebut. Bidan di masyarakat harus mampu menjalankan fungsi-fungsi primer pelayanan kebidanan.
Dari skrining/deteksi dini sampai dengan rujukan apabila diperlukan. Hal ini dilakukan pada seluruh sasaran asuhan kebidanan salah satunya yaitu bayi dan balita. Peran seorang Bidan di Komunitas dalam upaya mencapai MDG’s 2015 meliputi upaya Pencegahan dengan Kegiatan imunisasi pada bayi harusdipertahankan atau ditingkatkan cakupannya sehingga mencapai Universal Child Immunization (UCI) sampai di tingkat desa. Peningkatan pelaksanaan ASI eksklusif dan peningkatan status gizi serta peningkatan deteksi dan stimulasi dini tumbuh kembang jadi modal awal untuk sehat.
Pelayanan Kesehatan pada Bayi dan Balita
1. Perawatan kesehatan bayi
2. Perawatan kesehatan anak balita
3. Pemantauan tumbuh kembang bayi dan balita (deteksi dini)

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sunaryo, Nano.2005.Panduan Merawat Bayi dan Balita Agar Tumbuh sehat dan cerdas.Jogjakarta:Diva Press (Anggota IKAPI)
Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.1985.Ilmu Kesehatan Anak.Jakarta:Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Depkes RI. Asuhan Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga . Depkes RI. Jakarta. 192 : 6 – 18.

PERSALINAN DI DALAM AIR (WATER BIRTH)

 

 

WATER BIRTH


Persalinan di air ( waterbirth) adalah proses persalinan atau proses melahirkan yang dilakukan di dalam air hangat.
suatu metode melahirkan secara normal melalui vagina di dalam air. Konsep mengenai metode ini  telah timbul sejak lama, sejak tahun 1960-an dari pemikiran seorang peneliti Rusia, Igor Charkovsky. Metode ini terus dikembangkan dan akhirnya mulai dibuat persalinan secara  medisnya  Di Indonesia metode ini juga telah digunakan, walaupun masih jarang tetapi sudah berkembang di beberapa kota.

Secara prinsip, persalinan dengan metode water birth tidaklah jauh berbeda dengan metode persalinan normal di atas tempat tidur, hanya saja pada metode water birth persalinan dilakukan di dalam air sedangkan pada persalinan biasa dilakukan di atas tempat tidur. Perbedaan lainnya adalah pada persalinan di atas tempat tidur, calon ibu akan merasakan jauh lebih sakit jika dibandingkan dengan persalinan menggunakan metode water birth. Ada yang mengatakan persalinan dengan water birth dapat mengurangi rasa sakit hingga mencapai 40-70%.

 

Metode water birth


     Ada dua metode persalinan di air, yaitu :
1.  Water birth murni, yaitu metode persalinan water birth dimana ibu masuk ke kolam persalinan setelah mengalami pembukaan 6 sampai proses melahirkan terjadi.
2. Water birth emulsion, yaitu metode persalinan water birth dimana ibu hanya berada di dalam kolam hingga masa kontraksi akhir. Proses melahirkan tetap dilakukan di tempat tidur.

 

Alat-alat yang digunakan untuk persalinan Water Birth

1) Termometer air
2) Termometer ibu
3) Doppler anti air
4) Sarung tangan
5) Pakaian kerja (apron)
6) Jaring untuk mengangkat kotoran
7) Alas lutut kaki bantal, instrumen partus set
8) Shower air hangat
9) Portable/permanent pool
10) Handuk, selimut
11) Warmer dan peralatan resusitasi bayi

 

Hal-hal yang diperhatikan untuk persalinan Water Birth

1. Ibu mengambil sikap yang dirasakan aman dan nyaman untuknya. Keleluasaan gerakan yang mengijinkan ibu mengambil posisi yang tepat untuk bersalin. Ibu masuk berendam ke dalam air direkomendasikan saat pembukaan serviks 4-5 cm dengan kontraksi uterus baik.
2. Observasi dan monitoring antara lain :
a.  Fetal Heart Rate (FHR) dengan doppler atau fetoskop setiap 30 menit selama persalinan kala I aktif, kemudian setiap 15 menit selama persalinan kala II. Auskultasi dilakukan sebelum, selama, dan setelah kontraksi.
b. Penipisan dan Pembukaan serviks dan posisi janin. Pemeriksaan vagina (VT) dapat dilakukan di dalam air atau pasien di minta sementara keluar dari air untuk diperiksa.
c. Status Ketuban, jika terjadi ruptur ketuban, periksa FHR, dan periksa adanya prolaps tali pusat. Jika cairan ketuban mekonium, pasien harus meninggalkan kolam.
d. Tanda vital ibu diperiksa setiap jam, dengan suhu setiap 2 jam (atau jika diperlukan). Jika ibu mengalami pusing, periksa vital sign, ajarkan ibu mengatur napas selama kontraksi.
e.  Hidrasi Ibu. Dehidrasi dibuktikan dengan adanya takikardi ibu dan janin dan peningkatan suhu badan ibu. Jika tanda dan gejala dehidrasi terjadi, ibu diberi cairan. Jika tidak berhasil pasang infus ringer laktat (RL).

 

Tahap persalinan Water Birth


1. Mengedan seharusnya secara fisiologis. Ibu diperkenankan mengedan spontan, risiko ketidakseimbangan oksigen dan karbondioksida dalam sirkulasi maternal-fetal berkurang, dan juga akan dapat melelahkan ibu dan bayi.
2. Persalinan, bila mungkin metode ”hand off”. Ini akan meminimalkan stimulasi.
3. Lahirnya kepala bayi difasilitasi oleh adanya dorongan lembut kontraksi uterus. Sarung tangan digunakan penolong untuk melahirkan bayi. Sokong perineum, massage, dan tekan dengan lembut jika diperlukan. Ibu dapat mengontrol dorongan kepala dengan tangannya.
4. Manipulasi kepala biasanya tidak diperlukan untuk melahirkan bayi karena air memiliki kemampuan untuk mengapungkan. Walaupun demikian, pasien perlu berdiri membantu mengurangi atau memotong dan mengklem lilitan tali pusat. Meminimalkan rangsangan mengurangi risiko gangguan pernapasan.
5. Bayi seharusnya lahir lengkap di dalam air. Kemudian sesegera mungkin dibawa ke permukaan secara “gentle”. Pada saat bayi telah lahir kepala bayi berada diatas permukaan air dan badannya masih di dalam air untuk menghindari hipotermia, mencegah transfusi ibu ke bayi. Sewaktu kepala bayi telah berada di atas air, jangan merendamnya kembali.
6. Sewaktu bayi lahir, kepala bayi dikendalikan dengan gerakan yang lembut, muka ke bawah, dan muncul dari dalam air tidak lebih dari 20 detik. Janin dapat diistirahatkan di dada ibu sambil membersihkan hidung dan mulutnya, jika diperlukan. Penanganan ini sebaiknya melihat juga panjang tali pusat agar tidak sampai putus. Kemudian bayi diberi selimut, dan di monitor.
7. Idealnya, ibu dan bayi dibantu keluar dari air untuk melahirkan plasenta. Tali pusat di klem dan dipotong, dan bayi dikeringkan dengan handuk dan diselimuti dan kemudian diberikan kepada penolong lain, keluarga, atau perawat. Ibu dibantu keluar dari kolam. Plasenta dapat dilahirkan di dalam air atau di luar tergantung penolong (Kitzinger, 2000). Ibu dianjurkan menyusui sesegera mungkin setelah bayi lahir untuk membantu kontraksi uterus dan pengeluaran plasenta. Risiko secara teori yang dihubungkan dengan efek relaksasi air hangat terhadap otot-otot uterus termasuk solusio plasenta, emboli air dan peningkatan perdarahan.

 

Manfaat persalinan secara Water Birth
1.Untuk ibu
• Ibu akan merasa lebih relaks karena semua otot yang berkaitan dengan proses persalinan menjadi elastis.
• Metode ini juga akan mempermudah proses mengejan. Sehingga rasa nyeri selama persalinan tidak terlalu dirasakan.
• Di dalam air proses pembukaan jalan lahir akan berjalan lebih cepat
2.untuk bayi
• Menurunkan risiko cedera kepala bayi.
• Meskipun belum dilakukan penelitian mendalam, namun pakar kesehatan meyakini bahwa lahir dengan metode ini memungkinkan IQ bayi menjadi lebih tinggi dibandingkan bayi yang lahir dengan metode lain.
• Peredaran darah bayi akan lebih baik, sehingga tubuh bayi akan cepat memerah setelah dilahirkan.
Hal-hal yang harus dihindari dalam proses persalinan:
– Adanya kontra indikasi seperti pada kehamilan normal, yaitu seperti bayi lahir sungsang
– Adanya penyakit menular seksual seperti herpes karena virus herpes tidak dapat mati dalam air hangat
– Adanya perkiraan perdarahan berlebih, preeklampsia, atau infeksi kehamilan
– Kehamilan kembar
– Adanya perkiraan bayi lahir prematur
– Adanya mekonium (feses bayi) yang berlebih.

 

Image

Bradkinin

Bradikinin adalah peptida yang ditemukan dalam tubuh yang membantu untuk memperbesar atau membuka pembuluh darah . Hal ini akan menurunkan tekanan darah dan memungkinkan darah mengalir lebih lancar ke seluruh tubuh . Banyak merek menurunkan tekanan darah obat membantu untuk meningkatkan produksi bradikinin atau agar tidak mengurangi dalam tubuh karena kondisi tertentu.

Profesional medis telah mencatat bahwa bradikinin membantu untuk membuat jaringan otot lunak, seperti pembuluh darah , lebih permeabel dan memungkinkan untuk berkontraksi dan membuka . Dengan memahami mekanisme tubuh sendiri untuk mengendalikan tekanan darah , para ilmuwan dapat menemukan cara-cara baru dan lebih aman untuk mengobati tekanan darah tinggi pada pasien dengan kondisi kronis .

Penemuan bradikinin dipimpin oleh Dr Mauricio Rocha e Silva , bersama dengan peneliti lain di Brasil . Pada saat mereka sedang mempelajari efek shock peredaran darah , terutama yang disebabkan oleh enzim yang biasa ditemukan dalam racun . Mereka menemukannya dalam plasma hewan tertentu setelah diperkenalkan dengan racun dari ular lancehead Brasil , dan dampak yang dihasilkan pada pembuluh darah tercatat . Hal ini juga menyebabkan pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana racun tertentu menyerang pembuluh darah begitu cepat . Mereka umumnya menginduksi produksi bradikinin dalam tubuh , sehingga memungkinkan racun beredar lebih cepat .

Obat pilihan yang digunakan dalam terapi farmakologi pasien hipertensi dengan gagal jantung adalah Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor. ACE inhibitor direkomendasikan sebagai obat pilihan pertama didasarkan pada sejumlah studi yang menunjukkan penurunan morbiditas dan mortalitas. Akan tetapi, diuretik juga menjadi bagian dari terapi lini pertama (first line therapy) karena dapat memberikan penghilangan gejala udem dengan menginduksi diuresis.

ACE inhibitor memiliki mekanisme aksi menghambat sistem renin-angiotensin-aldosteron dengan menghambat perubahan Angiotensin I menjadi Angiotensin II sehingga menyebabkan vasodilatasi dan mengurangi retensi sodium dengan mengurangi sekresi aldosteron. Oleh karena ACE juga terlibat dalam degradasi bradikinin maka ACE inhibitor menyebabkan peningkatan bradikinin, suatu vasodilator kuat dan menstimulus pelepasan prostaglandin dan nitric oxide. Peningkatan bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACE inhibitor, tetapi juga bertanggungjawab terhadap efek samping berupa batuk kering. ACE inhibitor mengurangi mortalitas hampir 20% pada pasien dengan gagal jantung yang simtomatik dan telah terbukti mencegah pasien harus dirawat di rumah sakit (hospitalization), meningkatkan ketahanan tubuh dalam beraktivitas, dan mengurangi gejala.

ACE inhibitor harus diberikan pertama kali dalam dosis yang rendah untuk menghindari resiko hipotensi dan ketidakmampuan ginjal. Fungsi ginjal dan serum potassium harus diawasi dalam 1-2 minggu setelah terapi dilaksanakan terutama setelah dilakukan peningkatan dosis. Salah satu obat yang tergolong dalam ACE inhibitor adalah Captopril yang merupakan ACE inhibitor pertama yang digunakan secara klinis.

Nama Generik : Captopril

Nama Dagang :

Acepress : Tab 12,5mg, 25mg

Capoten : Tab 12,5mg, 25mg

Captensin : Tab 12,5mg, 25mg

Captopril Hexpharm : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Casipril : Tab 12,5mg, 25mg

Dexacap : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Farmoten : Tab 12,5mg, 25mg

Forten : Tab 12,5mg, 25mg, 50mg

Locap : Tab 25mg

Lotensin : Kapl 12,5mg, 25mg

Metopril : Tab salut selaput 12,5mg, 25mg; Kapl salut selaput 50mg

Otoryl : Tab 25mg

Praten : Kapl 12,5mg

Scantensin : Tab 12,5mg, 25mg

Tenofax : Tab 12,5mg, 25mg

Tensicap : Tab 12,5mg, 25mg

Tensobon : Tab 25mg

Indikasi :

  1. Hipertensi esensial (ringan sampai sedang) dan hipertensi yang parah.
  2. Hipertensi berkaitan dengan gangguan ginjal (renal hypertension).
  3. Diabetic nephropathy dan albuminuria.
  4. Gagal jantung (Congestive Heart Failure).
  5. Postmyocardial infarction
  6. Terapi pada krisis scleroderma renal.

    Kontraindikasi :

  7. Hipersensitif terhadap ACE inhibitor.
  8. Kehamilan.
  9. Wanita menyusui.
  10. Angioneurotic edema yang berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor sebelumnya.
  11. Penyempitan arteri pada salah satu atau kedua ginjal.

    Bentuk sediaan : Tablet, Tablet salut selaput, Kaplet, Kaplet salut selaput.

    Dosis dan aturan pakai captopril pada pasien hipertensi dengan gagal jantung :

    Dosis inisial : 6,25-12,5mg 2-3 kali/hari dan diberikan dengan pengawasan yang tepat. Dosis ini perlu ditingkatkan secara bertingkat sampai tercapai target dosis.

Target dosis : 50mg 3 kali/hari (150mg sehari)

Aturan pakai : captopril diberikan 3 kali sehari dan pada saat perut kosong yaitu setengah jam sebelum makan atau 2 jam setelah makan. Hal ini dikarenakan absorbsi captopril akan berkurang 30%-40% apabila diberikan bersamaan dengan makanan.

Efek samping :

  1. Batuk kering
  2. Hipotensi
  3. Pusing
  4. Disfungsi ginjal
  5. Hiperkalemia
  6. Angioedema
  7. Ruam kulit
  8. Takikardi
  9. Proteinuria

    Resiko khusus :

  10. Wanita hamil.

    Captopril tidak disarankan untuk digunakan pada wanita yang sedang hamil karena dapat menembus plasenta dan dapat mengakibatkan teratogenik. Hal ini juga dapat menyebabkan kematian janin. Morbiditas fetal berkaitan dengan penggunaan ACE inhibitor pada seluruh masa trisemester kehamilan. Captopril beresiko pada kehamilan yaitu pada level C (semester pertama) dan D (semester kedua dan ketiga).

  11. Wanita menyusui.

    Captopril tidak direkomendasikan untuk wanita yang sedang menyusui karena bentuk awal captopril dapat menembus masuk dalam ASI sekitar 1% dari konsentrasi plasma. Akan tetapi tidak diketahui apakah metabolit dari captopril juga dapat menembus masuk dalam ASI.

  12. Penyakit ginjal.

    Penggunaan captopril (ACE inhibitor) pada pasien dengan gangguan ginjal akan memperparah kerusakan ginjal karena hampir 85% diekskresikan lewat ginjal (hampir 45% dalam bentuk yang tidak berubah) sehingga akan memperparah kerja ginjal dan meningkatkan resiko neutropenia. Apabila captopril digunakan pada pasien dengan gangguan ginjal maka perlu dilakukan penyesuaian dosis dimana berfungsi untuk menurunkan klirens kreatininnya.

    STRUKTUR BRADYKININ:

  13. Die Primärstruktur des Bradykinin besteht aus 9 Aminosäuren (H2N-Arg-Pro-Pro-Gly-Phe-Ser-Pro-Phe-Arg-COOH) mit der Summenformel C50H73N15O11 und einer von Molekülmasse 1060,22 Da.

 

silahkan dibaca dulu : belajar yang rajin y ….?

 

ina