proposalku

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Salah satu masalah yang dihadapi di setiap lembaga pendidikan adalah adanya karakter siswa yang kurang baik, lemahnya pemahaman konsep fisika, lemahnya mengungkapkan ide dan gagasan, sering membolos, dan kurangnya motivasi belajar. Hal tersebut dirasakan di SMAN 3 AMBON pada kelas X. Seringkali karakter anak yang tidak baik dibuktikan dengan adanya siswa yang merokok secara sembunyi-sebunyi, merokok saat pulang sekolah, berkelahi sesama teman, dan terlambat. Sedangkan karakter pada saat pembelajaran terlihat ketika siswa lemah dalam pemahaman kosep, menjawab pertanyaan dari guru, mengungkapkan ide dan gagasan. Motivasi dan karakter siswa sangat mempengaruhi hasil belajar, sebab jika motivasi kurang dan karakter buruk, maka berdampak pada hasil belajar.

Dewantara (1967) mengemukakan beberapa hal yang harus dilaksanakan dalam pendidikan karakter, yakni ngerti-ngoro-nglakoni (menyadari, menginsyafi, dan melakukan). Hal tersebut menujukan bahwa pendidikan karakter merujuk adanya keselarasan antara  tekad-ucap-lampah (niat, ucapan, dan perbuatan), Mulyana. H. E. (2012). Dalam pembelajaran fisika melalui pendidikan karakter, hal ini sangat penting untuk diterapkan untuk menumbuh kembangkan  perilaku yang berkarakter.

Selain itu, penggunaan pendekatan contextual teaching and lerning pada pembeljaran fisika, siswa diharapkan mampu menghubungkan pembahasan konsep nilai-nilai inti etika sebagai landasan karakter dengan keseharian peserta didik, penerapan nilai-nilai moral yang dipelajari di sekolah ke masyarakat, dan contextual teaching and learning berusaha menghubungkan pembelajaran dengan pengalaman nyata. Keterlibatan siswa dalam menemukan fakta dan prinsip akan dapat membantu siswa dalam mengembangkan keterampilan proses. Keterampilan proses ini akan membantu siswa dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya di jenjang universitas serta di kehidupanya sehari-hari.

Peneliti menyadari pentingnya masalah tersebut untuk segera diteliti, dan dampaknya jika penelitian itu di tunda-tunda, maka peneliti menawarkan alternatif yaitu Penerapan Pendekatan Contextual Teaching and Learning Berbasis Karakter untuk Meningkatkan Ketermpilan Proses Sains Fisika.

  1. B.     Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang maka rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu apakah penerapan pendekatan Contextual Teaching and Learning berbasis pendidikan karakter untuk meningkatkan keterampilan proses pada materi hukum ohm dan hambatan listrik.

 

 

 

  1. C.    Tujuan Penelitian
    1. Untuk meningkatkan keterampilan proses sains dalam pembelajaran fisika menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning.
    2. Untuk meningkatkan karakter pada siswa SMAN 3 AMBON.
    3. Mencari hubungan antara karakter dan hasil belajar siswa.
    4. Untuk mencari berapa besar efektifitas pembelajaran model CTL.
    5. D.    Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk menambah khasanah keilmuan serta membantu guru dalam menerapkan pendidikan karakter pada siswa melalui keterampilasn sains.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. A.    Pendidikan Karakter

Pendidikan karakter memiliki makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena pendidikan karakter tidak hanya berkaitan dengan masalah benar-salah, tetapi bagaimana menanamkan kebiasaan (habit) tentang hal-hal yang baik dalam kehidupan, sehingga anak atau peserta didik memiliki kesadaran, dan pemahaman yang tinggi, serta kepedulian dan komitmen untuk menerapkan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa karakter merupakan sifat alami seseorang dalam merespon situasi secara bermoral, yang diwujudkan dalam tindakan nyata melalui perilaku baik, jujur, bertanggung jawab, hormat terhadap orang lain, dan nilai-nilai karakter mulia lainnya. Hal ini sejalan dengan ungkapan Aritoteles. Bahwa krakter erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus-menerus dipraktikan dan diamalkan.

Wynne (1991) mengemukakan bahwa karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (manandai) dan memfokusan pada bagaimana menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam tindakan nyata atau perilaku sehari-hari. Ada juga yang mengemukakan istilah karakter dihubungkan dan dipertikarkan dengan istilah etika , akhlak, dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi “positip” bukan netral. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpatri dalam diri terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.

Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan. Sedangkan karakter dipandang dari sudut behaviorial lebih menekankan pada unsur simatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan atau faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana seseorang tumbuh dan berkembang, faktor bawaan boleh dikatakan berada diluar jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan individu. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan karakter seseorang bisa dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui rekayasa faktor lingkungan.

Faktor lingkungan dalam konteks pendidikan karakter memiliki peran yang sangat peting karena perubahan perilaku peserta didik sebagai hasil dari proses pendidikan karakter sangat ditentunkan oleh faktor lingkungan ini. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan yang mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya sekolah, manajemen sekolah, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar. Pembentukan karakter melalui rekasyasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi: (1) keteladanan, (2) intervensi, (3) pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan (4) penguatan. Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.

Secara prinsipil, pengembangan karakter tidak dimasukkan sebagai pokok bahasan tetapi terintegrasi kedalam mata pelajaran, pengembangan diri dan budaya satuan pendidikan. Oleh karena itu pendidik dan satuan pendidikan perlu mengintegrasikan nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter ke dalam kurikulum, silabus yang sudah ada. Prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pengembangan pendidikan karakter mengusahakan agar peserta didik mengenal dan menerima nilai-nilai karakter sebagai milik peserta didik dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambilnya melalui tahapan mengenal pilihan, menilai pilihan, menentukan pendirian, dan selanjutnya menjadikan suatu nilai sesuai dengan keyakinan diri. Dengan prinsip ini peserta didik belajar melalui proses berpikir, bersikap, dan berbuat. Ketiga proses ini dimaksudkan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam melakukan kegiatan sosial dan mendorong peserta didik untuk melihat diri sendiri sebagai makhluk sosial.

 

  1. B.     Pengintegrasian Pendidikan Karakter dalam Semua Materi Pembelajaran

Pengintegrasian pendidikan karakter ke dalam semua materi pembelajaran dilakukan dalam rangka mengembangkan kegiatan intervensi. Substansi nilai sesungguhnya secara eksplisit atau implisit yang sudah ada dalam rumusan kompetensi (SKL, SK, dan KD) dalam Standar Isi (Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah), serta perangkat kompetensi masing-masing program studi di pendidikan tinggi. Yang perlu dilakukan lebih lanjut adalah memastikan bahwa pembelajaran materi pembelajaran tersebut memiliki dampak instruksional dan dampak pengiring pembentukan karakter. Pengintegrasian nilai dapat dilakukan untuk satu atau lebih dari setiap pokok bahasan dari setiap materi pembelajaran. Seperti halnya sikap, suatu nilai tidaklah berdiri sendiri, tetapi berbentuk kelompok. Secara internal setiap nilai mengandung elemen pikiran, perasaan, dan perilakiu moral yang secara psikologis saling berinteraksi.

Karakter terbentuk dari internalisasi nilai yang bersifat konsisten, artinya terdapat keselarasan antarelemen nilai. Sebagai contoh, karakter jujur, terbentuk dalam satu kesatuan utuh antara tahu makna jujur (apa dan mengapa jujur), mau bersikap jujur, dan berperilaku jujur. Karena setiap nilai berada dalam spektrum atau kelompok nilai-nilai, maka secara psikologis dan sosiokultural suatu nilai harus koheren dengan nilai lain dalam kelompoknya untuk membentuk karakter yang utuh. Contoh: karakter jujur terkait pada nilai jujur, tanggung jawab, peduli, dan nilai lainnya. Orang yang berperilaku jujur dalam mengerjakan tes, artinya ia peduli pada orang lain, bertanggung jawab pada pihak lain, artinya ia akan mengejakan tes sesuai dengan ketentuan berlaku. Oleh karena itu, bila semua peserta didik berkarakter jujur, tidak perlu ada teguran, dan tidak akan ada yang mencari keuntungan untuk dirinya sendiri dari prosedur pengerjakan tes (mencontek). Proses pengintegrasian nilai tersebut, secara teknologi pembelajaran dapat dilakukan sebagai berikut.

  1. Nilai-nilai tersebut dicantumkan dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP).
  2. Pengembangan nilai-nilai tersebut dalam silabus ditempuh antara lain melalui cara-cara sebagai berikut:
  3. mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada pendidikan dasar dan pendidikan memengah, atau kompetensi program studi pada pendidikan tinggi, atau standar kompetensi pendidikan nonformal;

a)      Mengkaji Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) pada pendidikan dasar dan pendidikan menengah, atau kompetensi program studi pada pendidikan tinggi, atau standar kompetensi pendidikan nonformal.

b)      Menentukan apakah kandungan nilai-nilai dan karakter yang secara tersirat atau tersurat dalam SK dan KD atau kompetensi tersebut sudah tercakup di dalamnya.

c)      Memetakan keterkaitan antara SK/KD/kompetensi dengan nilai dan indikator untuk menentukan nilai yang akan dikembangkan.

d)     Menetapkan nilai-nilai karakter dalam silabus yang disusun.

e)      Mencantumkan nilai-nilai yang sudah tercantum dalam silabus ke RPP.

f)       Mengembangkan proses pembelajaran peserta didik aktif yang memungkinkan peserta didik memiliki kesempatan melakukan internalisasi nilai dan menunjukkannya dalam perilaku yang sesuai.

g)      Memberikan bantuan kepada peserta didik yang mengalami kesulitan untuk internalisasi nilai mau pun untuk menunjukkannya dalam perilaku.

 

  1. C.    Penilaian Pendidikan Karakter

Pada dasarnya, penilaian terhadap pendidikan karakter dapat dilakukan terhadap kinerja pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik. Kegiatan pendidik yang terkait dengan pendidikan karakter dapat dilihat dari portofolio atau catatan harian. Portofolio atau catatan harian dapat disusun dengan berdasarkan pada nilai-nilai yang dikembangkan, yakni: jujur, bertanggung jawab, cerdas, kreatif, bersih dan sehat, peduli, serta gotong royong dan lain-lain. Selain itu, kegiatan mereka dalam pengembangan dan penerapan pendidikan karakter dapat juga diobservasi. Observasi dapat dilakukan oleh atasan langsung atau pengawas dengan bersumber pada niali- nilai tersebut untuk mengetahui apakah mereka sudah melaksanakan hal itu atau tidak.

Indikator materi pembelajaran menggambarkan perilaku berkarakter peserta didik berkenaan dengan materi pembelajaran tertentu. Indikator dirumuskan dalam bentuk perilaku peserta didik di kelas dan satuan pendidikan formal dan nonformal yang dapat diamati melalui pengamatan pendidik. Hal itu tampak ketika seorang peserta didik melakukan suatu tindakan di satuan pendidikan formal dan nonformal, tanya jawab dengan peserta didik, jawaban yang diberikan peserta didik terhadap tugas dan pertanyaan pendidik, serta tulisan peserta didik dalam laporan dan pekerjaan rumah. Perilaku yang dikembangkan dalam indikator pendidikan karakter bersifat progresif. Artinya, perilaku tersebut berkembang semakin kompleks antara satu jenjang kelas dengan jenjang kelas di atasnya atau bahkan dalam jenjang kelas yang sama. Indikator berfungsi bagi pendidik sebagai kriteria untuk memberikan pertimbangan apakah perilaku untuk nilai tersebut telah menjadi karakter peserta didik. Untuk mengetahui bahwa suatu satuan pendidikan formal dan nonformal itu telah melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan karakter perlu dikembangkan instrumen assesmen.

Selanjutnya, asesmen dilakukan dengan observasi, dilanjutkan dengan monitoring pelaksanaan dan refleksi. Asesmen untuk pendidikan karakter bermuara pada: (1) berperilaku jujur sehingga menjadi teladan; (2) menempatkan diri secara proporsional dan bertanggung jawab; (3) berperi laku dan berpenampilan cerdas sehingga menjadi teladan; (4) mampu menilai diri sendiri (melakukan refleksi diri) sehingga dapat bertindak kreatif; (5) berperilaku peduli sehingga menjadi teladan; (6) berperilaku bersih sehingga menjadi teladan; (7) berperilaku sehat sehingga menjadi teladan; (8) berperilaku gotong royong sehingga menjadi teladan. Selain itu, assesmen juga bisa berupa unjuk kerja (observasi) seperti; (1) memegang alat dengan baik; (2) dapat menggunakan alat dengan baik; (3) membaca skala pengukuran; (4) dapat mempresentasikan hasil percobaan; (5) dapat menyimpulkan hasil percobaan; dan lain-lain yang terkait dengan keterampilan proses.

 

  1. D.    Model Pembelajaran

CTL (Contextual Teaching and Learning) adalah pembelajaran kontruktivis. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar. CTL memiliki tujuh kompnen utama, yaitu konstruktivisme (Constructivisme), inkuiri (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat belajar (Learning Community), pemodelan (Modeling), refleksi (Reflection), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assesment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan pendekatan CTL jika menerapkan ketujuh prinsip tersebut dalam pembelajarannya. Secara garis besar langkah-langkah penerapan CTL dalam kelas sebagai berikut:

  1. Kembangkan pemikiran bahwa anak belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin inkuiri untuk semua topik.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  4. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok).
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.
  6. Lakukan refleksi diakhir pertemuan.
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnnya dengan berbagai cara.
    1. 1.      Kontruktivisme (Contructivisme)

Proses belajar mengajar lebih diwarnai student centered daripada teacher centered. Sebagian besar waktu proses belajar mengajar berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa. Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Esensi dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses “mengkontruksi” bukan “menerima” pengetahuan.tugas guru adalah memfasilitasi proses tersebut dengan:

  1. Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.
  2. Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri, dan
  3. Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar.
  4. 2.      Inkuiri (Inquiry)

Inkuiri merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Guru harus merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan yang menemukan, apapun materi yang diajarkan. Siklus inkuiri terdiri dari observasi (Observasi), bertanya (Questioning), mengajukan dugaan (Hypotesis), menyimpulkan data (Data gathering), dan penyimpulan (Conclussion). Langkah-langkah kegiatan inkuiri adalah sebagi berikut:

  1. Merumuskan masalah
  2. Mengamati atau melakukan observasi
  3. Menganalisis dan mengkaji hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainnya
  4. Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiens lain.
  5. 3.      Bertanya (Questioning)

Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berfikir siswa. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk:

  1. Menggali informasi, baik adminitrasi maupun akademis.
  2. Mengecek pemahaman siswa.
  3. Membangkitkan repon kepada siswa.
  4. Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa.
  5. Memfokuskan perhatian siswa kepada sesuatu yang dikehendaki guru.
  6. Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa.
  7. Menyegarkan kembali pengetahuan dari siswa.
  8. 4.      Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran diperoleh dari kerja sama dengan orang lain. Dalam kelas CTL, guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. Kelompok siswa bisa bervariasi bentuknya, baik keanggotaan, jumlah, bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya, atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.

  1. 5.      Pemodelan (Modeling)

Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Pemodelan dapat dirancang dengan melibatkan siswa. Seorang bisa ditunjuk untuk memodelkan sesuatu berdasarkan pengalaman yang diketahui. Model juga dapat didatangkan dari luar yang ahli dibidangnya.

  1. 6.      Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berfikir kebelakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. Siswa mengendapkan apa  yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada akhir pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi berupa realitas seperti; (1) pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya, (2) catatan atau jurnal di buku siswa, (3) kesan atau saran siswa mengenai pembelajaran, (4) diskusi, (5) hasil karya.

  1. 7.      Penilaian Autentik (Authentic Assesment)

Assesmen adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Penilaian autentik menilai pengetahuan dan keterampilan (performance) yang diperoleh siswa. Penilai tidak hanya guru, tetapi juga bisa orang lain. Karakteristik penilaian autentik yaitu:

  1. Dilaksanakan selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.
  2. Bisa digunakan untuk formatif maupun sumatif.
  3. Pengukuran pada keterampilan dan performansi, bukan mengingat fakta.
  4. Berkesenambungan
  5. Terintegrasi
  6. Dapat digunakan sebagai feed back.

 

  1. E.     Penggunaan Contextual Teaching and Learning dalam Pendidikan Karakter

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) yang sering disingkat CTL merupakan salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengefektifkan dan menyukseskan pendidikan karakter di sekolah. Dengan kata lain, CTL dapat dikembangkan menjadi salah satu model pembelajaran berkarakter, karena dalam pelaksanaannya lebih menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan peserta didik secara nyata, sehingga para pesera didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui proses penerapan karakter dalam kegidupan sehari-hari, peserta didik akan merasakan pentingnya belajar, dan mereka akan mmperoleh makna yang mendalam terhadap apa yang dipelajarinya. CTL memungkinkan proses belajar yang tenang dan menyenangkan, karena pembelajaran dilakukan secara alamiah, sehingga peserta didik dapat mempraktikan karakter-karakter yang dipelajariya dan yang telah dimilikinya seccara langsung. Pembelajaran kontekstual mendorong peserta didik  memahami hakikat, makna, dan manfaat belajar, sehingga memugkinkan mereka rajin, dan termotivasi untuk senantiasa belajar, bahkan kencanduan belajar. Kondisi tersebut terwujud, ketika pesera didik menyadari tentang apa yang mereka  perlukan untuk hidup, dan bagaimana cara menghadapinya.

Dalam pembelajaran kontekstual, tugas guru adalah memberikan kemudahan belajar kepada peserta didik, dengan menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai, serta menciptakan iklim yang kondusif bagi tumbuh kembangnya setiap karakter peserta didik. Guru bukan hanya menyampaikan materi pembelajaran yang berupa hafalan, tetapi mengatur lingkungan dan strategi pembelajaran yang memungkinkan peserta didk belajar. Lingkungan belajar yang kondusif sangat penting dan sangat menunjang pembelajaran kontekstual berkarakter, serta keberhasilan pembelajaran secara keseluruhan. Dalam pendidikan karakter, lingkungan belajar memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam mengembangkan dan membentuk pribadi peserta didik secara optimal. Pentingnya lingkungan dalam pendidikan karakter tersebut dapat dianalisis dari beberapa hal sebagai berikut.

  1. Dalam pendidikan karakter yang efektif, lingkungan berfungsi membentuk pribadi-pribadi peserta didik secara optimal, mulai dari penyadaran, pemahaman, kepedulian, sampai dengan pembentukan komitmen yang tepat.
  2. Belajar efektif itu dimulai dari lingkungan yang berpusat pada peserta didik. Hal tersebut dimulai dari guru akting di depan kelas, peserta didik memperhatikan, menuju peserta didik yang aktif melakukan sesuatu, dan guru mengarahkannya sesuai dengan jenis karakter dan kompetensi dasar yang akan dibentuk.
  3. Pembelajaran harus berpusat pada apa yang dipelajari peserta didik dan bagaimana mereka menggunakan pengetahuan baru dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Umpan balik sangat penting bagi peserta didik, yang berasal dari proses penilaian (assesment) yang benar.
  5. Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk diskusi dan kerja kelompok merupakan bagian dari pembelajaran efektif yang sangat penting.

 

Pelaksanaan pembelajaran kontekstual dipengaruhi oleh berbagai faktor yang sangat erat kaitannya. Faktor-faktor tersebut bisa datang dari dalam diri peserta didik (internal), dan dari luar dirinya atau dari lingkungan di sekitarnya (eksternal). Sehububgan dengan itu, Zahorik (1995) mengungkapkan lima elemen yang harus diperhatikan dalam pembelajaran kontekstual, sebagai berikut.

  1. Pembelajaran harus memperhatikan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
  2. Pembelajaran dimulai dari keseluruhan (global) menuju bagian-bagian yang lebih khusus (dari umum ke khusus).
  3. Pembelajaran harus ditekankan pada pemahaman dan pembentukan karakter tertentu, dengan cara: Menyusun  konsep sementara, melakukan sharing untuk memperoleh masukan daan tanggapan dari orang lain dan merevisi dan mengembangkan koknsep.
  4. Pembelajaran ditekankan pada upanya mempraktikan secara langsung apa-apa yang dipelajari.
  5. Adanya refleksi terhadap strategi pembelajaran dan pengembangan pengetahuan yang dipelajari.

CTL adalah sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para peserta didik memahami makna dari materi pembelajaran yang dipelajari, dengan cara menghubungkan subjek-subjek akademik dengan konteks keadaan pribadi, sosisal dan budaya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan tersebut terdapat delapan komponen yang harus dipenuhi sebagai berikut:

  1. Membuat hubungan-hubungan yang bermakna (making meaningful connections).
  2. Melakukan pekerjaan yang berarti (doing significant work).
  3. Melakukan pembelajaran yang diatur sendiri (self regulated learning).
  4. Melakukan kerja sama (collaborating).
  5. Berfikir kritis dan kreatif (critical and creative  thinking).
  6. Membantu individu untuk dan berkembang (nurturing the individual).
  7. Mencapai standar yang tinggi (reaching high standars), dan
  8. Menggunakan penilaian yang real dan autentik (using real and authetic assessment).

Banyak cara efektif untuk menghubungkan pembelajaran dengan konteks kehidupan sehari-hari. Setidaknya enam metode berikut ini dapat ditempuh:

  1. Menghubungkan pembahasan konsep nilai-nilai etika sebagai landasan karakter dengan keseharian peserta didik.
  2. Memasukan materi dari bidang lain didalam kelas.
  3. Dalam mata pelajaran yang tetap terpisah terdapat topik-topik yang saling berhubungan.
  4. Mata pelajaran gabungan yang menyatukan isu-isu moral.
  5. Menggabungkan sekolah dan pekerjaan.
  6. Penerapan nilai-nilai moral yang dipelajari di sekolah ke masyarakat.

Upaya tersebut menunjukan bahwa penerapan CTL dalam pendidikan karakter menghendaki adanya pembelajaran mandiri dan kerja sama. Pada tahap ini yang dikondisikan untuk dilakukan peserta didk adalah bagaimana mereka belajar langsung dengan mencari dan menggabungkan informasi secara aktif dari masyarakat maupun ruang kelas, lalu menggunakannya untuk alasan tertentu. Selanjutnya  peserta didik dirangsang untuk mengajukan pertanyaan menarik seputar karakter. Pernyataan-pernyataan ini akan membantu peserta didik untuk menemukan hubungan antara pembelajaran dikelas dengan situasi nyata yang mereka alami baik di sekolah, di rumah, maupun di masyarakat. Dalam hal ini, peserta didik diberi kesempatan membuat pilihan sendiri untuk memilih dan menentukan keterlibatannya dalam pendidikan karakter. Melalui proses demikianlah akhirnya peserta didik mampu membentuk kesadaran diri, yaitu kemampuan merasakan perasaan pada saat perasaan itu muncul.

Pendidikan karakter mensyaratkan adanya kemampuan berfikir kritis untuk mempertimbangkan dan mengambil tindakan moral dalam bentuk karakter-karakter positip pserta didik.peserta didik dibiasakan untuk bersikap kritis terhadap isu-isu moral yang terjadi dengan mengajukan tiga pertanyaan berikut: (1) prinsip-prinsip apa yang dijadikan tuntunan dalam kehidupan sehari-hari?, (2) kewajiban apa yang timbul dari hubungan-hubungan peserta didik dengan yang lain?, (3) apa kosenkuensi yang didapat dari keputusan dan tindakan yang diambil? Pernyataan-pernyataan tersebut membelajarkan peserta didik untuk menunjukan tanggung jawab moral sebagai anggota masyarakat. Selain itu berfikir kritis juga merupakan penjernihan nilai dalam menghadapi berbagai pandangan hidup yang berkembang di masyarakat, baik yang sesuai maupun yang kurang.

  1. F.     Hukum Ohm dan Hambatan Listrik
    1. 1.      Hukum Ohm

Pada rangkaian listrik tertutup, terjadi aliran arus listrik. Arus listrik mengalir karena adanya beda potensial antara dua titik pada suatu penghantar, seperti pada lampu senter, radio, dan televisi. Alat-alat tersebut dapat menyala (berfungsi) karena adanya aliran listrik dari sumber tegangan yang dihubungkan dengan peralatan tersebut sehingga menghasilkan beda potensial. Untuk mencari nilai hambatan listrik dapat dihitung menggunakan hukum ohm.

 ……………………………… (1.3)

Keterangan :

R = hambatan listrik (Ω)

V = beda potensial (V)

I = arus listrik (A)

Persamaan di atas dikenal sebagai Hukum Ohm, yang berbunyi “Kuat arus yang mengalir pada suatu penghantar sebanding dengan beda potensial antara ujung-ujung penghantar itu dengan syarat suhunya konstan/tetap”.

Hambatan merupakan ukuran perlawanan komponen terhadap aliran muatan listrik, dan merupakan perbandingan beda potensial suatu rangkaian terhadap arus yang mengalir didalamnya. Satu ohm adalah hambatan listrik dari sebuah objek yang memberi kemungkinan arus listrik satu ampere mengalir apabila beda potensial satu volt di tempatkan diantaranya. Hambatan listrik tidak bergantung pada ukuran atau bentuk kawat, tetapi ditentukan dari jenis kawatnya. Besar hambatan listrik dari suatu pengahantar yang membentuk silinder atau tabung yang memiliki panjang dan luas penampang bergantung pada jenis kawat, panjang penghantar, dan luas penampang penghantar. Hambatan listrik dapat dirumuskan dalam persamaan sebgai berikut:

 ………………………………………………(1.4)

Keterangan:

R = hambatan listrik (Ω)

= hambatan jenis bahan (ohm. Meter)

= panjang kawat pengahantar (m)

= luas penampang (

Persamaan tersebut menunjukan bahwa:

1)      Makin panjang kawat, makin besar nilai hambatan.

2)      Makin besar luas penampang kawat, makain kecil hambatan.

3)      Jika jenis kawat berbeda, maka nilai nilai hambatan juaga berbeda.

adalah tetapan yang menyatakan hambatan jenis dari suatu bahan. Hambatan jenis adalah nilai kemampuan bahan untuk melawan aliran arus listrik. Tetapan ini menentukan sifat khas dari setiap bahan yang tidak bergantung ukuran dan bentuk penghantar. Penghantar sejenis akan memiliki hambatan jenis yang sama. Bahan konduktor memiliki hambatan jenis yang kecil, isolator memiliki hambatan jenis yang besar, dan superkonduktor memiliki hambatan jenis sama dengan nol.

Secara umum, hambatan bahan akan bertambah apabila suhu naik. Dalam suatu batasan perubahan suhu tertentu, perubahan jenis berbanding dengan perubahan suhu dan dapat dinyatakan sebagai berikut:

 ……………………………. (1.5)

Hambatan listrik sebanding dengan hambatan jenis sehingga apabila hambatan jenis kawat mengalami perubahan pada saat suhu berubah, maka hambatan listriknya akan mengalami perubahan.

 …………………………….. (1.6)

Keterangan:

R = hambatan bahan (Ω)

hambatan jenis bahan (ohm.meter)

koofesien suhu hambatan jenis (

perubahan suhu

Hambatan suatu benda dipengaruhi oleh suhu sehingga perubahan hambatan dapat digunakan untuk mengukur perubahan suhu.

  1. 2.      Hambatan Listrik

Berdasarkan persamaan hukum Ohm, hambatan listrik dapat didefinisikan sebagai hasil bagi beda potensial antara ujung-ujung penghantar dengan kuat arus yang mengalir pada penghantar tersebut. Suatu penghantar dikatakan mempunyai hambatan satu ohm apabila dalam penghantar tersebut mengalir arus listrik sebesar satu ampere yang disebabkan adanya beda potensial di antara ujung-ujung penghantar sebesar satu volt.

  1. Jenis-jenis hambatan
    1. Resistor tetap

Pada resistor tetap yang biasanya dibuat dari karbon atau kawat nikrom tipis, nilai hambatannya disimbolkan dengan warna-warna yang melingkar pada kulit luarnya. Simbol warnawarna tersebut mempunyai arti sesuai dengan letaknya.

Gambar 1.1 Resistor tetap

Warna pada pita ke-1 menunjukkan angka pertama, pita ke-2 menunjukkan angka ke-2, pita ke-3 menunjukkan banyaknya angka nol, dan pita ke-4 menunjukkan tingkat akurasi. Resistor tetap yang dipasang pada rangkaian listrik seperti radio, televisi, dan komputer berfungsi untuk mengatur kuat arus listrik dan beda potensial pada nilai-nilai tertentu sehingga komponen-komponen listrik pada rangkaian tersebut dapat berfungsi dengan baik.

  1. Resistor variabel

(a)                       (b)

Gambar 1.2 (a) resistor tipe bergeser, (b) resisitor tipe berputar

Resistor variabel dapat dibagi menjadi dua, yaitu resistor variabel tipe berputar dan bergeser (rheostat). Pada prinsipnya, cara kerja kedua resistor ini adalah sama, yaitu memutar atau menggeser kontak luncur untuk menambah atau mengurangi nilai hambatan sesuai kebutuhan. Resistor variabel ini dapat kita temui pada sistem volume di radio, tape recorder, dan alat-alat elektronik lainnya.

 

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Tipe Penelitian

Tipe penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif-kualitatif. Deskiptif yaitu untuk menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa. Penelitian ini mengkaji bentuk, aktifitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan dengan fenomena lain (S. Nana Saodah, 2011). Deskriptif kuantitatif-kualitatif yaitu penelitian menggunakan analisis angka-angka dan selanjutnya dideskripsikan. Deskripsi digunakan untuk menemukan prinsip-prinsip dan penjelasan yang mengarah pada penyimpulan.

Desain penelitian yaitu One Group Pretest-Posttes Design. Rancangan dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

Rancangan penelitian One Group Pretest-Posttest Design ini menurut Gall, Gall & Borg (Setyosari P. 2012) meliputi tiga langkah, yaitu: (1) pelaksanaan prates untuk mengukur variabel terikat; (2) pelaksanaan perlakuan atau eksperimn; dan (3) pelaksanaan pascates untuk mengukur hasil atau dampak variabel terikat. Dengan demikian, dampak perlakuan ditentukan dengan cara membandingkan skor hasil prates dan pascates. Sebelum subjek dikenai perlakuan, peneliti melakukan observasi yang berupa prates () kemudian dilakukan perlakuan (X) dan selanjutnya diadakan observasi atau pascates ().

 

  1. B.     Lokasi dan Lama Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di SMA Negeri ….. Ambon. Lama penelitian dilakukan selama dua bulan.

  1. C.    Populasi dan Sampel

Populasi penelitian yaitu kelas X SMAN 3 AMBON dan sampel penelitian yaitu kelas X8. Pengambilan sampel menggunakan teknik Sampel Random (Random Sample). Dalam teknik ini setiap individu memiliki peluang atau kesempatan yang sama untuk dijadikan subjek penelitian. Populasi penelitian sangatlah banyak yaitu kelas Xn, maka peluang rambang dilakukan dengan cara sejumlah kelompok yang ada, kemudian pengambilan sampel acak dilakukan pada kelompok tersebut.

Pengambilan sampel menggunakan tes intrument pretest-posttes, ini bertujuan untuk melihat karakteristik sampel. Test yang digunakan untuk pengambilan sampel telah di uji validitas dan reliabilitasnya dan dianalisis menggunakan program annatest. Rumus untuk pengambilan sampel yaitu:

 …………………………………………………….. (5)

Keterangan:

N = besar populasi.

n = besar populasi.

d = penumpangan terhadap populasi atau derajat ketepatan yang diinginkan

yaitu 0,05.

 

  1. D.    Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian adalah variabel bebas dan variabel terikat. Menurut Tuckman (Setyosari P. 2012), variabel bebas (independent variables) adalah variabel stimulus atau masukan, dilakukan oleh seseorang dalam lingkungannya yang dapat mempengaruhi perilaku hasil. Variabel bebas adalah veriabel yang menyebabkan atau mempengaruhi, yaitu faktor-faktor yang diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungan antara fenomena yang diobservasi.

Tuckman (Setyosari P. 2012), variabel terikat (dependent variables) adalah suatu variabel respon atau hasil. Variabel ini adalah aspek perilaku yang diamati dari organisme yang telah diberi stimulasi. Variabel terikat adalah faktor-faktor yang diobservasi dan diukur untuk menentukan pengaruh variabel bebas, yaitu faktor-faktor yang muncul, atau tidak muncul, atau berubah sesuai dengan yang diperkenalkan oleh peneliti itu.

Berdasarkan penelitian studi hubungan, maka variabel bebas adalah aspek X yaitu karakter dan variabel terikat Y yaitu  aspek hasil belajar.

 

  1. E.     Instrument Penelitian

Instrument Penelitian menggunakan instrument test dan non-test. Instrument test bertujuan untuk melihat pengetahuan pada aspek kognitif siswa dan instrument non-test bertujuan untuk melihat kemampuan aspek afektif dan psikomotor, meliputi karakter siswa.

  1. Instrument Tes
    1. Pretest-Posttes

Pretest digunakan untuk melihat kemampuan awal pada saat pengambilan sampel, sedangkan posttest berfungsi untuk melihat kemampuan akhir setelah perlakuan. Jumlah pretest-posttes sebanyak 15 butir soal.

  1. LKS (Lembar Kegiatan Siswa)

Lembar Kerja Siswa digunakan untuk menilai kegiatan siswa selama proses pembelajaran berlangsung dan untuk mengukur aspek kognitif.

  1. Instrument Non-test
    1. Lembar penilaian aspek afektif dan psikomotor

Lembaran penilaian pada aspek afektif dan psikomotor menggunakan assesment yaitu dengan menngunakan rubrik penilaian unjuk kerja (aspek psikomotor) dan rubrik penilaian presentasi dan diskusi (aspek afektif).  Jumlah butir untuk mengukur aspek afektif dan aspek psikomotor sebanyak …….. butir yang disesuaikan dengan indikator pembelajaran. Dalam assesment  pedoman untuk memilih dan menggunakan penilaian-penilaian pembelajaran melalui ujuk kerja atau presentasi diskusi di kelas, didasarkan pada rubrik-rubrik yang disusun sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai dalam pembelajaran tersebut (Uno, Hamzah B dkk; 2012). Assesment penelitian ini menggunakan skala rentang (rating scale).  Skala rentang digunakan untuk memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai secara kontinum, dimana pilihan kategori nilai yaitu mulai dari empat ke satu atau sebaliknya dari satu ke empat.

  1. Lembar observasi pengukuran karakter

Lembar observasi pengukuran karakter berupa berfungsi untuk melihat karakter siswa ketika diberi perlakuan.

 

  1. F.     Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data penelitian menggunakan teknik test, observasi, wawancara, dan angket.

  1. Tes meliputi pretes-posttes dan LKS tujuan teknik tes yaitu untuk melihat kemampuan kognitif siswa.
  2. Observasi dilakukan selama proses pembelajaran. Aspek yang dinilai yaitu aspek afektif dan psikomotor. Observasi dilakukan menggunakan assesment yaitu berupa rubrik.
  3. Angket karakter dilaksanakan ketika pembelajaran berlangsung.

 

 

 

  1. G.    Teknik Analisi Data

Teknik analis data meliputi beberapa tahap yaitu:

  1. Teknik analisis data instrument test

Instrument test sebelum digunakan dalam penelitian terlebih dahulu di uji validitasnya menggunakan program annatest dan juga secara manual untuk pilihan ganda dan annates untuk essay. Menurut Sudijono A (2011), validitas adalah salah satu ciri yang menandai tes yang baik. Reliabilitas berhubungan dengan masalah kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka, reliabilitas tes berhubungan dengan masalah keterampilan hasil tes (Arikunto S, 2012).

a)      Rumus untuk mencarari validitas Multiple Choice.

 ………………………………………………… (6)

Keterangan:

= koofesien validitas item

= skor rata-rata hitung yang dimiliki oleh teste

= skor rata-rata dari skor total

= deviasi standar dari skor total

= proporsi teste yang menjawab benar

q =  proporsi teste yang menjawab salah

b)      Rumus untuk mencari reliabilitas Multiple Choice menggunakan K-R. 20

 ……………………………………………. (7)

Keterangan:

= koofesien reliabilitas tes.

n = banyaknya butir item yang dikeluarkan dalam tes.

P = proporsi subjek menjawab item dengan benar

q = proporsi subjek yang menjawab iten salah.

1 = bilangan konstan.

= jumlah perkalian antara p dan q.

S = standara deviasi dari tes (akar varian).

 

  1. Teknik analisis hubungan X dan Y

Teknik analisis korelasi product moment yaitu korelasi yang berhubungan dengan dua variabel interval, masing-masing diusahakan berdistribusi normal. Hubungan antara dua variabel dapat diuji melalui plot pengukuran yang berpasangan pada grafik (Setyosari P, 2012). Dengan menggunakan data hasil karakter diberi tanda X dan data hasil belajar diberi tanda Y. Korelasi yang dipakai yaitu korelasi product moment dengan simpangan. Menurut Arikunto S (2012;85), rumus korelasi product moment dengan simpangan yaitu:

 …………………………………………………. (8)

Keterangan:

= koofesien antara variabel X dan variabel Y.

= jumlah perkalian x dengan y

kuadrat dari x

= kuadrat dari y

 

  1. Analisis uji t

Analisis uji t dilakukan untuk melihat efektifitas proses pembelajaran dan diketahui setelah dilakukan analisis terhadap data hasil pretest dan post-test.

 

Md : means dari deviasi (d) antara tes akhir dan tes awal

: jumlah kuadrat deviasi

: banyak subjek (siswa)

: perbedaan antara tes awal dan tes akhir

−1 : db (derajat kebebasan.

 

  1. Teknik analisis hasil belajar
    1. Skor perolehan (SP)

Skor pencapain pada ranah kognitif, afektif, dan psikomotor yaitu:

Presentasi Pencapaian (SP) =  ………..(9)

Perhitungan presentasi (SP) menggunakan skala 1-100 karena dalam penilaian raporan pendidikan yaitu skala 1-100.

  1. Rata-rata nilai (R r N) pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotor dapat diperoleh menggunakan persamaan berikut.

 ………….. (10)

  1. Untuk melihat nilai perbandingan pretest-posttest maka dapat dihitung menggunakan persamaan berikut.

Nilai posttest – Nilai pretest …………………………….. (11)

  1. Nilai akhir (NA)

Analisa data untuk mengetahui Nilai Akhir (NA) yang menggambarkan tinggkat penguasaan individu terhadap indikator kompetensi dihitung menggunakan rumus sebagai berikut:

 

 

Keterangan :

NA = Nilai Akhir

K = nilai Kognitif

A = nilai Afektif

P = nilai Psikomotor

Tujuan dari nilai akhir yaitu mengukur tingkat pencapaian belajar siswa pada semua aspek.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s